Sabtu, 05 Juni 2010

OM Vito Yang Kekar

Sore itu aku mampir ke rumah sahabatku, Boyke. Namun ternyata Boyke sedang pergi. Namun ibunya menyilakan aku menunggu di kamarnya di loteng bagian belakang rumah itu. Akupun langsung naik ke arah kamar teman sekolahku itu. Aku agak terkejut ketika kubuka pintu kamar, ternyata seorang pria bertubuh kekar sedang di atas ranjang sambil menonton tv. Ia cuma bercelana dalam bikini ketat warna hijau polos.

"Hei, ayo masuk," undangnya melihatku termangu di depan pintu, "kamu temannya Boyke, ya. Saya Oomnya, Vito,"

Oom Vito mengulurkan tangan seraya tersenyum ramah. Kami berdua langsung saja akrab. Oom Vito langsung cerita kalau ia baru datang dari Jambi. Ia ke Jakarta dengan tujuan bekerja di Fitness Center sebagai instruktur. Ternyata Oom Vito seorang binaragawan. Pantas kalau tubuh lelaki muda berusia 22 tahun itu bgitu kekar mempesona.

"Apa benar latihan binaraga bisa membuat kelamin kita kecil, Oom?" tanyaku penasaran sambil untuk kesekian kalinya melirik ke arah cawat minim Oom Vito. Ia tersenyum.

"Wah, liat sendiri saja deh!" jawabnya sambil menarik tanganku dan meletakkannya di atas jendolan kemaluannya. Aku langsung gugup ditantang begitu. Untuk sejenak kami terdiam, hanya saling memandang. Pelan-pelan aku menyingkapkan kancut Oom Vito dan membiarkan aurat pebinaraga itu keluar dari persembunyiannya.

Kontol Oom Vito yang sudah setengah menegang itu ternyata besar sekaleee! Masih memandang ke arah mukanya kuelusi urat jantan paman temanku itu.
Peler Oom Vito tambah keras saja. "Isap,Ber!" bisiknya. Tanpa disuruh dua kali langsung saja aku berjongkok di pinggir ranjang dan kuselomot titit Oom Vito ke dalam kulumanku. Kuisap-isap aurat jantan gede itu serakus-rakusnya sampai Oom Vito menggelinjang dibuatnya.

"Annngghhhh.....oahh.....isap terussss Bermannnnn..!" lenguhnya. Aku tambah aktif memuluti anatomi paling pribadinya. Dan tak lama kemudian menyemburlah air mani Oom Vito ke dalam mulutku. Creeesttt..ceeett....cresttt!

Tangan atlet ganteng itu mendorong bagian belakang kepalaku. Matanya terpejam dan pinggulnya terangkat dari atas ranjang. Sedap sekali mengulum peler kuda Oom Vito. Ketika akhirnya peju tidak memancar lagi kulepas sedotanku atas kelamin Oom Vito. Tiba-tiba pintu kamar terbuka dan masuklah Boyke sambil menyeru, "Hai Berman....!"

Gairah Pramugara

Aku sudah berkemas sejak pukul 6 sore, sebab pesawat yang akan membawaku ke Jakarta dari Bali akan berangkat pada pukul 9 malam nanti. Aku lalu mandi dan setelah itu menutup koperku, aku kunci pintu kamar kost-ku, dan juga berpamitan kepada ibu kost. "Sudah mau berangkat, Tom ?", tanya bu kost padaku.

"Udah, bu", jawabku pendek.

"Nanti setiba di Jakarta, titip salam saya pada ibu kamu ya Tom", pinta bu kost padaku.

"Yuk.. bu saya pergi dulu", ujar saya mohon pamit pada ibu kost. Setelah menyetop taksi, aku pun langsung pergi menuju ke bandara, setibanya di bandara, kebetulan aku berpapasan dengan mobil yang mengantar pramugara dan pramugari pesawat yang akan aku tumpangi, aku sempat melihat seorang pramugara yang sungguh tampan, wajahnya halus dan body-nya kekar dibalut dengan kemeja panjang yang dikenakannya, sungguh membuat jantungku berdebar.

Setelah mendapatkan boarding pass, aku lalu berjalan - jalan di sekitar ruang tunggu, sambil melihat - lihat toko souvenir yang berjejer, dan aku lalu melihat pramugara yang tadi sempat membuat jantungku berdebar, dia tampaknya sedang sibuk memeriksa agenda-nya, langsung saja aku hampiri pramugara itu. "Wah... sibuk ya mas ?", tanyaku membuka percakapan.

"Anda siapa ya ?", tanya si pramugara cuek.

"Saya Tommy, perkenalkan", ujar saya sambil menjulurkan tangan saya.

"Oh.. saya Anton", jawab si pramugara sambil berjabat tangan dengan saya.

"Anda nanti bertugas di pesawat SA701 ?", tanya saya pada Anton.

"Iya.. kamu mau naik penerbangan itu juga ?", Anton balas bertanya. Akhirnya kami pun terlibat percakapan seru dari masalah pekerjaan, hobby, dsb yang semakin memperat hubungan kami.

Ketika sudah berada di dalam pesawat, Anton menanyakan nomer kursi yang tertera di boarding pass-ku, lalu aku pun memberitahukan nomer kursiku.

"Sebaiknya kamu duduk di belakang saja ya.. lebih sepi, jadi kita bisa ngobrol - ngobrol lagi", ajak Anton, dan tentu saja aku tidak menolak kesempatan emas untuk lebih dekat dengan Anton. Anton pun lalu memilihkan sebuah kursi di dekat pintu yang berhadapan dengan kursi awak kabin. Ketika pesawat akan tinggal landas, Anton duduk di kursi yang ada di depanku, sehingga kami saling berhadap - hadapan. Aku lalu melirik ke arah Anton, matanya sangat tajam memandang ke arahku, sehingga membuatku kaget dan aku pun bertanya - tanya dalam hati, apakah Anton seorang gay juga seperti aku ?.

Namun aku yakin pastilah Anton seorang gay dari cara memandangnya. Kami terdiam, tempat duduk di paling belakang sangat sepi hanya ada kami berdua. Aku sungguh bernafsu melihat body dan wajah Anton, dia sungguh tampan, aroma parfum-nya sungguh maskulin, karena tidak tahan, kakiku aku angkat dan kutaruh di atas daerah tempat kontolnya bersarang, kuelus - elus kakiku diatas daerah tersebut, dan Anton juga tidak protes ataupun terkejut ketika aku berbuat demikian, bahkan tampaknya dia sangat menikmati servis yang aku berikan, aku dapat merasakan kontol Anton, dan menurutku kontol Anton cukup besar, walaupun masih dalam keadaan setengah ngaceng. Akhirnya lampu sabuk pengaman pun dimatikan, dan kakiku langsung aku angkat dari daerah XXX Anton.

"Tom, tunggu aku selesai tugas ya ?", bisik Anton di telingaku, aku pun jadi heran apa yang direncanakan Anton terhadapku. Setelah aku menikmati hidangan, Anton kembali muncul.
"Tom, ikut gue yuk ?", pinta Anton "Kemana Ton ?", tanyaku heran "Udah.. pokoknya ikut aja !", ajak

Anton seraya meraih tanganku. Aku pun tidak bisa menolak, dan ternyata Anton mengajakku ke WC pesawat, aku sangat terkejut demikian cepatkah aku harus melayani kuda jantan ini, tanyaku dalam hati dengan hati riang gembira. Setelah kami berdua berada di dalam WC pesawat yg sempit itu, Anton pun segera menguncinya. Karena nafsuku yang sudah tidak tertahankan, aku pun mulai men-servis Anton, aku cium bibir Anton, kujilat - jilat bibirnya dan dia pun membalas ciuman ke bibirku, aku lalu mulai melepas kancing kemejanya dan lalu perlahan - lahan kuangkat kaos dalamnya, Anton sudah setengah telanjang sekarang. Aku lalu membuka baju dan celanaku sehingga aku hanya memakai celana dalam saja.

"Cepat Tom, lepas celana gue", ujar Anton tidak sabaran. Cepat - cepat kubuka celana Anton sehingga yang tampak sekarang hanya kancut segitiga-nya yang di bagian kepala kemaluan-nya agak basah, mungkin karena precum. Aku sudah tidak sabar lagi aku pelorotkan kancut itu, sehingga kontol Anton yang sudah ingin bebas itu loncat ke atas dan berdenyut - denyut pula. Aku pun mulai beraksi aku jilat dan hisap kontol Anton, dan dia ...tampak mengerang kegelian. "aahhh... enak Tom.. hisaapp..ahh", perintah Anton, dan langsung aku hisap kontol Anton aku mainkan lidahku di kepala kontol-nya, yang membuat Anton menjadi mengerang kenikmatan, aku isap - isap buah pelernya, kukulum - kulum batang kontol-nya, akhirnya Anton pun mulai menunjukkan tanda - tanda akan keluar pejuh-nya, urat - urat kontolnya mengeras, aku langsung menghentikan adegan oral sex ini, pelan - pelan aku lalu melepas kancutku, dan duduk di urinoir, lalu kupengang kontol Anton dan kuarahkan masuk ke lobang pantatku.. ahhh... sungguh nikmat rasanya, dan agak sakit juga, karena bool-ku udah lama nggak dientot, Anton sudah mulai mengerang kenikmatan lagi, matanya ia pejamkan, aku lalu mengisap puting susunya, aku jilat leher dan wajahnya yang tampan, lengannya kunaikkan, aku senang juga melihat bulu ketiaknya sangat lebat lalu aku kulum dan jilat ketiak itu, Anton mulai menaik - turunkan pantatnya cepat sekali aku tau dia akan ejakulasi, rasanya sungguh nikmat ketika Anton mengentot bool-ku, untuk menahan rasa sakit aku tarik-tarik tissue

WC, sehingga tissue itu bertebaran, aku juga turut mengocok kontolku, akhirnya ..crot..crot...

Anton yang pertama kali menyemprotkan pejuhnya di pantatku sambil berteriak kepuasan yang mendalam, sungguh banyak sekali dan rasanya pejuh Anton mencapai usus dalamku, akhirnya aku pun turut ejakulasi, Anton menjadi lemas, wajahnya berkeringat dan penuh kepuasan, begitu pun aku yang sudah turut lemas, akhirnya kami memakai pakaian kami, dan aku lalu memberikan

alamatku di Jakarta dan di Bali kepada Anton, dan dia tampaknya sungguh senang sekali, akhirnya kami sering melakukan hubungan 'gase' (gay sex) bersama Anton.

Pemijat Dadakan

Aku adalah seorang pemuda berusia 18 tahun. Walau masih lumayan muda aku mempunyai tubuh yang cukup bagus karena sering latihan di gymnasium. Aku memang menyukai olahraga. Namaku Anton, walaupun banyak cewek di sekolah yang suka atau naksir kepadaku, entah kenapa aku tidak merasa tertarik kepada satupun diantara mereka. Aku menganggap mereka semua sebagai teman.

Di lingkungan sekolah aku tidak mempunyai teman yang sangat akrab, aku lebih sering bergaul dengan tetangga sebelah rumahku yang kebetulan merupakan tempat kost dan salah seorang yang paling akrab bergaul denganku adalah Syarif, seorang mahasiswa yang mempunyai banyak kesamaan denganku. Syarif berusia 23 tahun. Dia pula yang mengajakku rutin berlatih di klub fitness atau renang.

Pada suatu sore, Syarif menawariku untuk main ke tempat kerjanya. Setahuku memang beberapa minggu terakhir ini Syarif agak sibuk dan mempunyai jadwal kerja walaupun bukan berstatus pegawai tetap. Yang jelas dia sering pulang agak larut dan jarang bisa ngobrol denganku seperti biasa.

Aku menerima tawarannya dan berangkat bersama. Sekitar 20 menit aku berboncengan motor dengannya dan sampailah kami di sebuah rumah di sebuah kampung. Syarif lalu memarkir motor dan mengajakku masuk ke rumah tersebut.

Di dalam terdapat sebuah meja seperti meja penerima tamu dan beberapa kursi berjajar. Ada beberapa orang pemuda yang sebaya Syarif dan rata rata berbadan kekar sedang mengobrol. Mereka menyapa Syarif dan Syarif lalu mengenalkanku kepada mereka. Rata-rata mereka ramah sehingga aku merasa lumayan betah disana.

Syarif lalu memintaku duduk menunggu di ruang tamu tersebut dan beberapa temannya mengajakku mengobrol ringan. Syarif sendiri lalu masuk ke ruang dalam. Tak lama kemudian ada seorang bapak bapak masuk dan menyapa salah seorang pemuda yang sedang duduk. Lalu setelah bercakap cakap sebentar mereka keluar.

Selang beberapa menit Syarif keluar dengan seorang lelaki yang usianya kira kira 30 tahunan.

"Ton, kenalkan.. ini mas Amir.. boss gue", kata Syarif

Aku lalu berjabat tangan dengan mas Amir yang tubuhnya juga boleh dibilang bagus.

Kami lalu mengobrol ringan dan dalam waktu 20 menit, para pemuda yang tadi di ruang tamu telah kedatangan tamu dan ada yang langsung pergi, ada pula yang naik ke lantai atas.

"Mas.. kerjanya apa sih, dari tadi kok banyak sekali tamu yang keluar masuk ?" tanyaku penasaran.

"Ah.. kerja gue sih ringan aja.. cuman nemenin tamu ngobrol terus.."

Belum sempat Syarif menyelesaikan kalimatnya pintu terbuka dan muncul seorang lelaki. Syarif lalu menyapa dan menyilahkan masuk. Setelah berbincang bincang beberapa saat.

"Ton, gue tinggal dulu ya.. gue harus temenin tamu nih.. elo tunggu aja disini bentar"

Tanpa memberi kesempatan padaku untuk bertanya, Syarif sudah keluar dengan lelaki yang disebut tamunya itu.

Aku mulai heran dan bertanya tanya apa sebenarnya pekerjaan Syarif. Tapi karena aku hanya sendirian, akhirnya aku mengambil majalah yang terletak di meja. Majalah itu ternyata adalah majalah fitness yang memuat banyak sekali gambar gambar pria yang memamerkan keindahan tubuhnya. Harus kuakui sebenarnya aku agak bingung dengan diriku karena aku lebih suka melihat pria yang bertelanjang dada. Kelihatan gagah dan perkasa.

Sedang asyik asyiknya aku melihat lihat majalah tersebut, tiba tiba pintu kembali terbuka. Muncullah seorang lelaki bertubuh kekar memakai kaos ketat sehingga keindahan tubuhnya dieksploitasi. Aku mengangguk dan mencoba menyilahkan dia duduk. Kulitnya agak hitam terbakar matahari dan rambutnya dipotong cepak sekali. Dia lalu duduk di sebelahku.

"Sendirian saja dik ?" tanyanya ramah.


"E.. iya.. lagi pergi semua.." jawabku.

Diam diam aku memperhatikan tubuh lelaki itu yang benar benar kelihatan gagah dan jantan. Kaos hijau ketat yang dipakainya semakin melihatkan otot otot tubuh yang dimilikinya. Puting susunya kelihatan menonjol. Tiba tiba dia mengulurkan tangan dan mengajakku berkenalan.

"Kenalkan, nama gue Jamal", katanya.

"Anton", kataku menyambut uluran tangannya.

"Bisa kita pergi sekarang Ton ?"

"Eh.. ini.. sebentar.." aku gugup sekali karena tidak menyangka aku dikira sebagai pegawai disana.

"Kenapa ? harus jaga kandang ? pamit aja sama Amir." katanya memberi saran.


Aku teringat bahwa mas Amir masih ada di dalam. Aku lalu pamit sebentar dan masuk ke

dalam untuk mencari mas Amir. Kudapati mas Amir baru selesai mandi. Aku lalu menyapanya dan memberitahu ...bahwa ada tamu di luar. Mas Amir lalu keluar. Rupanya mereka telah kenal.

"Buset elo Mir.. dapet darimana barang bagus begitu ?" sempat kudengar Jamal bertanya seperti itu kepada mas Amir.

"Ah.. elo Mal.. sebenarnya...." mas Amir lalu berbisik bisik kepada Jamal.

Setelah berbincang bincang beberapa saat. Jamal kembali duduk sementara mas Amir menghampiriku dan menggamit lenganku untuk masuk ke dalam.

"Ton.. elo mau kagak bantuin gue ?"

"Bantuin apa mas ?"

"Anak buah gue kan pada pergi semua nih.. elo temenin tuh mas Jamal ya.."

"Loh.. saya kan gak kerja disini mas ?"

"Kagak apa apa.. Jamal sendiri yang minta kok.. "

"Tugas saya nanti apa aja mas ?"

"Elo bisa mijit kagak.. ?"

"Saya.. kagak gitu bisa mijit mas.. "

"Ah.. udahlah.. elo temenin aja dia.. entar elo turutin aja dia maunya apa.."

"Tapi nanti Syarif.."

"Udah.. itu urusan kecil.. "


Usai berkata begitu, mas Amir langsung menggamit lenganku keluar dan menyorongkanku kepada Jamal. Aku mulai berdebar debar, apa yang akan terjadi padaku nanti.

Jamal lalu mengajakku keluar dan kami lalu berjalan menyusuri kampung itu sampai di jalan raya dimana Jamal memarkir mobilnya dan menyuruhku masuk ke dalam jeepnya. Dia lalu melarikan mobilnya. Untung Jamal orangnya ramah. Dia mengajakku mengobrol santai, kadang juga kita bercanda. Dia juga menceritakan tentang dirinya sendiri. Dia berusia 28 tahun tapi dia tidak bercerita banyak tentang pekerjaannya kecuali bahwa dia sedang cuti dan ingin refreshing.

Aku mulai bingung saat Jamal melarikan mobilnya ke arah luar kota.

"Kita mau kemana ini mas ?"

"Gue lagi pengen ke pantai nih.. dan tolong jangan panggil gue mas dong.. "

"Tapi saya belum bilang orang rumah, nanti mereka mencari.."

"Nih ada telpon, elo telpon sekarang.. bilang elo diajak temen nginap" dia melemparkan handphonenya ke arahku.

Walau agak ragu, tapi akhirnya aku menelpon juga ke rumah dan memberi kabar aku akan menginap di rumah temanku supaya tidak terlalu banyak ditanya.

Hari sudah malam saat kami sampai di sebuah pantai yang cukup sepi. Jamal lalu memarkir jeepnya di sebuah rumah dan dia turun meminta kunci ke sebuah rumah. Lalu dia mengajakku masuk ke sebuah rumah kecil di pinggir pantai.

"Kenapa Ton, kamu tegang ya ? Jangan khawatir lah.. gue cuman butuh ditemenin aja kok"

Jamal lalu merangkul pundakku dan mengajakku masuk ke dalam rumah.

Rumah itu berupa kamar berukuran sekitar 3 X 4 meter plus sebuah kamar mandi. Di tengah tengah terdapat sebuah kasur pegas. Jamal lalu membuka jendela kamar dan membiarkan angin pantai bertiup masuk ke dalam kamar.

"Ah... segar sekarang.. Nah.. Ton, anggap rumah elo sendiri deh"

Jamal lalu melepas sepatunya kemudian berdiri dan meloloskan kaos hijau ketatnya. Aku yang sedang duduk di ranjang amat terkagum kagum melihat dadanya yang begitu kekar perkasa. Puting susunya begitu hitam dan tegang. Dia tersenyum melihatku melihatnya seperti itu.

"Kenapa Ton, elo suka liat tetek gue ?"

"Eh.. i.. iya.. tetek elo bagus "

"Tubuh elo juga lumayan bagus kok.. cuman butuh latihan rutin aja"

Dengan cuek Jamal lalu melorot celana panjangnya sehingga dia hanya mengenakan kolor yang alamak seksi sekali. Mana kontolnya kulihat begitu jelas membayang di balik kolornya yang tipis dan minim itu.

Diam diam aku merasakan bahwa kontolku juga tegang melihat dia hampir telanjang seperti itu. Baru kali ini memang aku melihat langsung di depan mataku tubuh lelaki yang hampir polos. Jamal lalu tersenyum dan menyuruhku untuk melepas pakaianku.

"Ayo Ton, lepas pakaian elo.. terus pijitin gue.. tubuh gue capek semua nih"

Dia lalu menelungkupkan diri ke ranjang. Alamak.. kolor dia hanya berupa tali di bagian belakangnya sehingga pantatnya yang bulat kencang itu terlihat dengan jelas. Aku semakin gemetaran menahan nafsuku dan juga menahan rasa sesak di celanaku akibat kontolku yang semakin ngaceng.

Aku lalu melepas bajuku dan mengambil body lotion yang disiapkan oleh Jamal. Kemudian aku menduduki pahanya dan mulai mengoleskan body lotion ke punggungnya.

Saat aku mulai memijit ...

tubuhnya yang kencang itu, Jamal sesekali mengerang nikmat. Setelah beberapa lama, dia memintaku untuk memijit kaki dan pahanya. Dia mengangkangkan kakinya sedikit sehingga terlihat lubang pantatnyayang dipenuhi oleh bulu bulu lebat berwarna hitam itu.

Tiba tiba Jamal berbalik sehingga kini dia terlentang dan memintaku memijit dadanya. Saat aku hendak duduk di sebelah tubuhnya, Jamal melarangku dan memintaku duduk diatas pahanya, sehingga saat aku membungkuk memijit dadanya, bagian kontolku bersentuhan dengan kontolnya yang masih terbungkus celana dalam minim itu. Kurasakan kontol dia juga mulai ngaceng.



Jamal mengangkat tangannya sehingga bulu bulu ketiaknya terlihat dan membuatku semakin terangsang. Dia mengerang penuh kenikmatan saat tanganku memijit dadanya dan memintaku untuk memainkan jariku di puting susunya.

"Sekarang.. lepas kolor gue" perintahnya

Antara ragu dan ingin tahu, kulepas juga perlahan lahan kolornya sehingga kontolnya yang sudah ngaceng penuh itu tersembul keluar. Gila.. kontol dia cukup besar dan panjang. Hitam dan dikelilingi oleh bulu bulu jembut yang keriting dan lebat.

"Ya.. sekarang pijitin tuh kontol gue.." suruhnya lagi

Tanpa diulang dua kali aku lalu meraih kontolnya dan memainkannya.

"Bukan dengan tangan.. dengan lidah elo"

Bagai kerbau dicucuk hidung, aku mendekatkan kepalaku ke kontolnya dan kujulurkan lidahku untuk menjilati kontolnya bagaikan es krim.

"Oh ya.. euhhh... enak... bagus.. pintar elo Ton"

Aku semakin bernafsu menjilati kontolnya yang super ngaceng itu dan kumainkan tanganku di pelernya.

"Masukin ke mulut elo Ton.. masukin semuanya..."

Lagi lagi aku menuruti kata katanya untuk memasukkan kontolnya ke mulutku, mulai dari ujung sampai ke pangkalnya.

"Ooooooooooohhhh... yeaaaaaaaaaaaahhhh..... terusssssss... jangan berhenti Tooonnnn"

Puas kujilati dan kukulum kontolnya, Jamal lalu bangkit dan melepas kolornya. Dia lalu menyuruhku melepas celana jeans dan kolorku. Setelah aku telanjang bulat, dia menyuruhku berdiri di depannya dan kini dia yang menjilati kontolku. Nikmatnya benar benar tak terhingga. Aku sampai merasa terbang di awang awang. Bahkan tak lama kemudian aku tak tahan lagi atas rasa geli dan nikmat yang tak terkira.


"Oooohh.. Mal... gue gak tahan.... oooooohh..... ehhhh... yeaaaaa...

AAHHHHHHHHHHH"

Kusemprotkan air maniku yang sudah tak tertahankan itu mengenai mulut, muka dan rambutnya. Aku kemudian terkapar lemas di ranjang. Benar benar suatu kenikmatan yang belum pernah kurasakan sebelumnya. Jamal lalu memelukku dan mendekatkan wajahnya ke wajahku. Mulutnya tiba tiba menempel di mulutku. Aku membalas ciumannya dengan bernafsu. Ohhh... nikmat sekali rasanya, sementara tangannya meremas remas tetekku.

"Gimana Ton, elo suka kan ?"

"Suka sekali Mal... nikmat..."

"Itu belum seberapa sayang... gue akan kasih elo sesuatu yang lebih enak"

"Apa itu Mal ?"

"Gue pengen ngentotin elo Ton, elo mau kan gue entot ?"

Tanpa menunggu jawabanku, Jamal lalu menggamit kakiku dan membentangkannya lebar lebar sambil diangkat. Diganjalnya pinggulku dengan bantal dan dia mengambil lotion yang masih tersisa lalu dioleskannya ke lubang anusku. Jarinya lalu dimasukkan ke silitku, pertama tama satu jari, dua jari dan entah sampai berapa jari yang dia masukkan yang jelas aku merasa aneh tapi nikmat menjalari sekujur tubuhku.

Jamal kemudian berlutut di antara kedua kakiku yang tetap terangkat. Disandarkannya kakiku ke dadaku sementara dia memainkan kontolnya dan mengarahkannya ke lubang silitku. Kurasakan kepala kontolnya menempel di lubang silitku. Dia lalu membungkuk dan mencium bibirku, saat itu juga kurasakan kontolnya memasuki silitku. Rasanya benar benar gila. Aku ingin menjerit karena merasakan silitku seperti terbakar tapi yang keluar dari mulutku hanyalah rintihan kecil. Rontaanku juga tak berarti karena tubuhnya begitu berat menindih tubuhku.

Akhirnya aku hanya bisa pasrah membiarkan rasa panas itu. Rupanya kontolnya telah masuk semua sampai ke pangkalnya ke dalam silitku karena kurasakan bulu bulu jembutnya menempel di pantatku. Saat itu dia berhenti sejenak dan kurasakan rasa panas dan perih itu hilang seketika berganti dengan suatu rasa aneh dan nikmat yang menjalari tubuhku. Apalagi saat setelah itu Jamal mulai menggerak gerakkan kontolnya maju mundur di dalam silitku. Aku merasa ...

suatu kenikmatan yang paling hebat. Aku merintih dan mengerang saat dia menghentakkan kontolnya keras keras ke dasar silitku.

Entah berapa lama Jamal menyanggamaiku seperti itu, yang jelas dia kemudian kembali menegakkan tubuhnya sambil tetap mengentot silitku.

"Ohhh... ahhh.. enak kan Ton.. eeehh... ?"

"Eeeeeeeeeehh... i... yaaaaa..... euuhhhhhhhhhhhhhhhh... aahhhhhhhhh"

Hentakan kontol Jamal makin lama makin cepat sampai akhirnya.

"OOhhhhhhhhhh... Toooonnnnnn..... gue keluar........................" teriaknya

Setelah itu Jamal menghentakkan kontolnya beberapa kali sampai akhirnya dia berhenti total dan ambruk di atas tubuhku tanpa mencabut kontolnya dari dalam silitku. Kurasakan ada cairan yang meleleh keluar dari sela sela kontolnya dan silitku.

Jamal lalu mencium bibirku dengan mesra.

"Thanks Ton, gue suka elo"

"Sama sama Mal.. gue juga suka sama elo"

Setelah beristirahat beberapa jam, Jamal mengajakku keluar ke pantai yang masih gelap itu dengan telanjang bulat. Kami kemudian mandi di pantai dan saat duduk di pasir, kembali Jamal menciumi bibirku dengan bernafsu. Lagi lagi dia ngentotin aku di atas pasir pantai.

Sampai sekarang Jamal masih sering mengajakku untuk menemaninya. Tapi dia tidak lagi menjemputku di tempat temanku Syarif bekerja, melainkan langsung ke rumahku. Ya, kami sudah menjadi sepasang kekasih. Aku harus mengucapkan terimakasih pada Syarif yang telah mengenalkanku kepada Jamal kekasihku. Kadang kami juga mengundang Syarif untuk ikut join dalam permainan kami.

· Previous part

Bertemu Bule

Hari-hari di rumah saat liburan kuliah terasa amat membosankan. Di mana saat kuliah saya disibukkan oleh banyak hal sekarang tak ada hal yang dapat kulakukan. Saya cuma tidur, makan, tidur dan makan lagi.
Merasa amat suntuk, maka aku memutuskan untuk berlibur ke pantai Pangandaran selama 2 minggu supaya ngga stress di rumah melulu. Jadi besoknya langsung saja aku pergi ke sana dengan mobil pribadi.

Sebenarnya aku paling ngga suka kalau pergi sendirian, karena tak ada orang yang bisa kuajak bicara. Tapi tak tahu kenapa saat itu aku ngga mau mengajak teman-temanku untuk ikut pergi, bahkan keluargaku pun tidak.

Perjalanan dari Jakarta ke Pangandaran cukup lama, kurang lebih 11 jam atau bisa lebih kalau macet. Pokoknya perjalanan ke sana membuat saya sangat kelelahan.

Akhirnya sampai juga si Pangandaran. Aku langsung check in di sebuah hotel . Karena lelahnya, maka ketika bertemu kasur aku langsung tertidur pulas dan baru bangun siang hari keesokan harinya. Hari itu saya bermain di pantai, berjalan di sepanjang pantai dan bermain air laut. Lucu memang saya melakukannya sendiri tanpa teman. Ketika sedang asik-asiknya bermain pasir, tiba-tiba ada seorang bule menghampiri saya. Dia bertanya sebelumnya apakah saya dapat berbicara dengan bahasa inggris atau tidak. Saya mengangguk dan dia tersenyum. Dia kemudian bertanya apakah saya turis dari Jepang? Saya tertawa, karena saya disangka olehnya sebagai turis Jepang. Saya langsung menerangkan padanya bahwa saya itu turis juga tapi tidak dari Jepang. Dia kemudian bertanya lagi apakah saya mau menemaninya berwisata di Pangandaran karena dia tidak bisa berbahasa Indonesia dan akan lebih baik

Lover's Connection Nylon Leash

Click Here!

bila ada teman yang dapat berbahasa Indonesia. Saya langsung setuju, apalagi dia itu orangnya amat tampan, tinggi dan gagah. Rambutnya coklat dan kulitnya putih. Tipe-tipenya seperti orang-orang yang ada di film Baywatch. Wahhh keren deh. Lumayanlah bisa menemaninya karena dapat sesering mungkin menikmati keindahannya. Oya, kami berkenalan . Namanya Joseph dari Michigan, Amerika Serikat. Umurnya 22 tahun dan masih kuliah juga. Setelah beberapa hari jalan bersama, kami menemukan banyak kesamaan antara kami, seperti suka lagu-lagu U2, bowling, suka renang, dan maih banyak lagi.

Dalam 4 hari saja, kami sudah sangat dekat seperti saudara. Begitu dekatnya hingga kami pun berbagi kamar hotel supaya lebih irit. Dia sering bercerita mengenai kehidupannya di Amerika, bagaimana keluarganya dan teman-temannya juga tentang pergaulan di sana. Kami saling berbagi pengalaman. Sampai suatu hari Joey, nama panggilan Joseph menceritakan kehidupan seksualnya. Dia bercerita kalau dia itu seorang biseksual. Dia sering melakukan hubungan dengan sesama pria di sana. Ketika mendengarnya, aku bagaikan di surga ke tujuh saja. Saya langsung mengaku kalau saya juga seorang biseks. Ketika mendengarnya, dia langsung tersenyum dan dengan gembira dia mencium bibirku dengan sanga bernafsu dan sambil berkata kalau dia jatuh cinta padaku.

Dia membuka bajunya dan bajuku, kemudian celanaku hingga aku dan dia hanya mengenakan celana dalam saja. Dia mencium seluruh bagian tubuhku, mulai dari atas terus sampai bawah. Ahhhh, nikmatnya.

Ketika sampai di tititku, dia mulai bermain. Dia menghisap tititku dalam-dalam dengan sangat kuat. Tititku sampai tidak kelihatan lagi karena dihisap semua ke dalam mulutnya. Rasanya sangat nikmat membuat gairahku meningkat.
Ketika tiba saatnya

Men of San Francisco (CD-ROM)

Click Here!

aku ejakulasi, aku menyuruhnya berhenti menghisap karena aku ingin malam ini menjadi malam yang panjang untuk dinikmati. Aku beralih ke tubuhnya. Kubuka celana dalamnya dan kulihat titit yang amat besar dan tidak disunat dengan bulu jembut coklat yang sangat lebat. Uhhhh, sangat besar sekali tititnya, bila diukur kurang lebih sekitar 25cm. Kuhisap titinya kuat-kuat dan dia berteriak kenikmatan. Belum pernah aku menghisap titit sebesar ini. Kami melakukan gaya 69 . Ahhhh, belum pernah tititku dihisap sekeras ini, baru sebentar saja dihisap sudah harus dihentikan karena aku sudah mau ejakulasi lagi, padahal biasanya paling sebentar aku ejakulasi sekitar 10 menit. Hisapannya memang maut.

Tak lama kemudian dia berkata bahwa dia ingin menyodomi aku. Aku agak takut karena tititnya sangatlah besar, pasti akan terasa sangat sakit. Tapi dia bilang tak udah kuatir akan kubuat tidak sakit. Lalu dia menciumi lubang pantatku dan lidahnya mulai mencoba menembus lubang itu. Setelah beberapa lama lidahnya menjelajah lubang pantatku, jari tangannya mulai memasuki pantatku. Pertama hanya satu jari kemudian menjadi dua dan akhirnya menjadi tiga jari, tapi aku tak merasa sakit karena itu semua dilakukannya ...dengan bertahap. Akhirnya lubang pantatku dimasuki oleh tititnya. Ohhh, sangat pas sekali. Agak sakit sedikit tapi rasanya sangat hangat sekali. Dia memasukannya pelan-pelan lalu mulai agak cepat menyodomiku. Dan akhirnya aku mulai kenikmatan dengan tusukan-tusukan itu. OOOhh ahhhh aohhhhhh Nikmat sekali rasanya. Tak sampai 10 menit dia pun ejakulasi di lubang pantatku. Lubang pantatku menjadi sangat basah karena spermanya sangat banyak. Begitu banyaknya hingga spermanya ada yang mengalir keluar. Kuminum spermanya yang keluar itu. Dan dia pun menjilati lubang pantatku dan meminum jugaspermanya sendiri.

Lalu dia kembali menghisap tititku, kuminta dia untuk menghisap sangat keras, begitu kerasnya sehingga tak sampai 2 menit aku ejakulasi di dalam mulutnya. Spermaku diminum semuanya.

Lelah sekali permainan malam itu, karena kami melakukannya sampai 4 ronde. Di kamar, Di kamar mandi , Di pantai dan di mobilku.

Sekarang Joey sudah pulang kembali ke negaranya, namun kami tetap tidak kehilangan kontak. Seminggu sekali dia meneloponku begitu pun aku. Dan yang lebih asyik lagi, bulan depan aku akan berlibur ke tempatnya.

Main Bareng-bareng

Waktu itu gue masih duduk di kelas 1 SMA di Jakarta. Gue punya sobat baik namanya Andre. Badannya atletis banget deh, soalnya hobinya maen basket. Andre ini ngecengin pacar gue, Nia. Tapi gue nggak nyangka kalo Nia juga menyambut perhatiannya. Gini ceritanya.
Suatu sore waktu gue main ke rumah Nia, seperti biasa gue langsung disambut ama pembantunya. Si Bibi bilang Neng Nia ada di kamarnya. Langsung aja gue nyelonong ke kamarnya. Tapi betapa kagetnya gue, waktu gue buka pintu, gue liat Nia lagi naked en yang lebih bikin gue kaget, dia lagi ML (making love) ama Andre.

Tapi anehnya begitu ngeliat badan Andre yang atletis itu, kontol gue langsung ereksi. Apalagi liat pantatnya yang bulet dan kenceng itu naik turun di atas memek Nia. Woow, selangit.... Awalnya mereka kaget banget mengetahui kedatangan gue. Apalagi Nia.

"Eh, Bobby, kapan datengnya ?" tanyanya salah tingkah karena kepergok.

"Hai Bob..." sapa Andre, juga salah tingkah.

"Oh jadi gini kelakuan elo berdua di belakang gue ? Gue nggak nyangka elo berdua segitu bejatnya..." Tapi sambil ngomong gitu mata gue nggak pernah lepas ngeliatin kontol Andre yang panjang dan gede itu. Oh, betapa nikmatnya kalo gue isep itu kontol...

"Udah tanggung kan, sekalian aja elo berdua terusin perbuatan maksiat itu"

"Eeehh, tapi..." kata Nia ragu-ragu. "Bener nih Bob, elo nggak marah ?"
"Marah ? Malah gue pengen ikutan nimbrung..."

Gue langsung buka semua pakaian gue, dan tanpa basa basi gue tubruk pantat Andre yang seksi itu dan gue remas-remas. Nia kaget banget dengan perbuatan gue. Apalagi Andre. Tapi keliatannya dia juga ngerasa enak.

Akhirnya Andre kembali lagi ngerojok-rojok memek Nia, sementara itu gue masih remas-remas pantatnya. Terus gue masukin kontol gue ke pantat Andre. Badan kita bertiga bergoyang seirama, penuh kenikmatan menuju orgasme.

Pas gue dan Andre mau orgasme, gue cabut kontol gue, Andre juga nyabut kontolnya, dan kita berdua ngocok kontol di depan mulut Nia. Creett...creettt... gue dan Andre sama-sama orgasme di mulut Nia, kemudian dengan mulut penuh air mani, kita ciuman bertiga. Nia ngebagi cairan sorga itu ke gue dan Andre. Selangit deh rasanya.

Di Hotel

Saat sedang mandi pintu tidak saya tutup karena saya pikir cuma sendirian. Sedang asyik mandi saya kaget Room Boy yang bernama Dadang masuk kedalam kamar tanpa saya tahu, rupanya dia sedang bersih-bersih tapi dari cermin yang saling berhadapan saya tahu dia memperhatikan saya terus. Saya teruskan mandi saya dengan shower. Tiba dia di depan pintu kamar mandi dia memperhatikan saya kembali, saya cuek saja sambil keramas rambut, lama dia bolak-balik di depan pintu.

Setelah rambut saya bilas dengan bersih, saya ambil sabun untuk badan. Tiba-tiba Room Boy itu bertanya pada saya: "Mau di mandikan mas?". Saya kaget juga mendengarnya tapi hati saya merasa senang karena tawarannya. Saya balik bertanya: "Kamu serius?" dan dia jawab: "Ya!" Dia lalu membuka semua pakaian kerjanya cuma celana dalam yang dia pakai sekarang.


Celana dalam g-string dengan ikatan tali dibagian belakan bokongnya. Tampak dari depan sedikit jelas bentuk kontolnya dengan bulu-bulu halus yang menyembul keluar dari balik celana dalamnya. Sementara saya masih dibawah shower dia mengambil sabun cair lalu mendekat kearah saya dan berkata: "Bagian badan belakang dulu mas..." Sambil berbalik membelakangi dia mulai melumuri badan belakang saya dengan sabun. Disuruhnya kedua tangan saya untuk diangkat lalu diusapkannya sabun yang ada ditelapak tangannya ke ketiak saya yang lebat dengan bulu. Kiri dan kanan tangannya saya rasakan usapannya halus sekali membuat kontol saya mulai naik...setelah itu giliran kaki saya. Direntangkannya kedua kaki saya lalu diusapkan tangannya dengan sabun mulai dari ujung kaki, betis dan paha demikian pula dengan kakiku bagian kanan. Selesai itu sekarang dia mulai menyabuni bagian bokong saya. Diusapnya dahulu dengan sabun lalu digosok-gosokannya tangannya ke kedua belahan bokong saya. Jari dan telapak tangannya terasa meremas-remas. Jari-jari tangannya sesekali menyentuh lubang bokongku lalu turun kebagian bawah selangkanganku, dipijit-pijitnya batang selangkanganku yang kurasakan sangan nikmat dan yang membuat aku senang dia menarik-narik kedua biji pelerku dengan tangannya yang penuh sabun, rasanya nikmat sekali.

Kini kubiarkan kontolku ngaceng dengan tegaknya! Dia berdiri dan belok ke arah badan depanku. Dia melihat kontolku yang sedang tegak menantang, dia kembali menyabuni kedua kakiku dari bawah sampai ke selangkanganku. Dia bertanya pada saya: "Mas kontol besar sekali mau saya sabuni juga?" itulah kata-kata yang ingin kudengar dari dia...akhirnya terjadi juga. "Ya sekalian..." jawabku. Dia jongkok tepat dengan mukanya di depan kontolku, dia mulai menyabuni batang kontolku dan pelernya...bertambah liar rasanya...batang kontolku disabunimya dengan sesekali dikocoknya. Saat aku menikmati itu dia berkata lagi:"Mas, kontolnya saya kocok ya?". Aku tidak menjawab tapi kusandarkan badanku ke dinding sambil merentangkan kedua kakiku. Kusorongkan pinggangku kemukanya dan benar pasti dia ingin mengulum kontol saya...


Kubiarkan hal itu sambil aku menikmatinya. beberapa saat kuhentikan. Kutarik dia dan kupeluk rapat-rapat. Kupelorotkan celana dalamnya hingga kontol kami saling bergesekan. kucium bibirnya lama lalu kubisikan ketelingannya:"Aku perlu lubang bokongmu..." dia kembali membalas ciumanku dibawah shower, nikmat sekali kurasakan saat itu. Lalu dia berbalik badan sehingga bokongnya menekan kontolku. Perlahan kumasukan jariku ke lubangnya lalu kontolku melesak kedalam dengan perasaan yang sungguh nikmat. Tanganku memegang batang kontolnya dan kukocok. desahan nafasnya dan lenguhannya membuatku terangsang makin hebat. Dan tak lama kupercepat gerakan kontolku keluar-masuk lubangnya dan sambil berteriak aku lepaskan spermaku ke dalam bokongnya sementara kontolnya yang kukocok menyemprotkan air maninya kemana-mana...


Puas sekali rasanya, akhirnya kami mandi kembali bersama-sama. Dibawah shower aku menciumi dia dengan gerakan yang terkandang lebut dan kasar...dia menyukainya. Room Boy, Dadangku, terima kasih! Aku rindu ingin berjumpa denganmu...

Cerita seks Seorang Gay

ni adalah sebuah cerita yang bisa dikatakan curhat seorang gay, bimbang memilih menjadi seorang gay atau membohongi dirinya dengan menjadi pria normal yang menyukai lkawan jenis. Cerita ini di kirim oleh seseorang yang ingin menemukan jati dirinya. lewat cerita dewasa dia bercerita dan ingin berbagi kebimbangannya. Berikut cerita lengkapnya.

Beberapa hari setelah peristiwa sejati yang aku alami itu, jiwaku sangat terguncang dan goyah. Aku tidak tahu apa yang harus aku perbuat lagi. Aku sangat merasa berdosa dan menyesal telah melakukannya dan mengapa aku tidak tahan dengan godaan itu. Aku begitu larut di dalam situasinya sehingga aku tidak ingat lagi dengan apa kata hatiku. Terus terang, aku sebelumnya adalah seorang yang taat dengan norma agama dan aku tahu bahwa seks di luar nikah adalah pantang apalagi jika itu adalah seks sesama jenis.

Gejolak dalam hati saya kian hari kian membawa saya ke dalam pergulatan dan perdebatan antara hati nurani dengan apa yang telah menjadi kenyataan atas diriku. Hati nuraniku berkata “aku tidak ingin jadi gay” tapi aku sendiri tidak bisa memungkiri apa yang telah terjadi atas diriku dan aku tidak bisa berdusta dan membohongi perasaan hatiku sendiri. Akhirnya tinggallah goresan luka yang amat menyedihkan dalam batin saya yang sangat dalam, hatiku sangat bimbang.. Apakah kuharus menjadi gay dan menikmati hidupku atau apakah kuharus melawan perasaan dan keadaan diriku sendiri? Inilah masalah yang sangat besar yang pernah aku alami, kala harus menentukan sikap hidup. Aku berada di antara persimpangan dua arah yang sangat menentukan jalan hidupku.

Aku sudah berusaha untuk hidup dan mencintai seorang wanita, tapi apa daya perasaan itu selalu menghantui saya dan tidak bisa aku hindari kala aku melihat seorang cowok ganteng didepanku.
Sahabatku yang aku percaya selama ini, ternyata dia pergi meninggalkan aku kala ia mengetahui bahwa aku berubah total. Kala aku curhat dan mengatakan bahwa aku menjadi gay, ia malah meninggalkan aku dengan alasan ia tidak mau menjadi gay juga seperti aku. Dia menganggap aku sebagai seorang yang kena “virus gay” yang katanya dapat menular ke orang lain, apalagi dia statusnya sebagai teman dekat saya. Tentu saja kepergian sahabatku yang sangat aku percayai itu kian menambah luka dan goresan dalam lubuk hatiku. Oh Tuhan, apakah yang harus aku lakukan lagi? Mengapa aku menjalani semua ini? Mengapa harus aku? Atau apakah ini jalan dan garis hidupku? Inikah takdirku?

Akh.. Tidak, ini bukan takdir. Aku yakin Tuhan punya rencana yang indah dalam hidupku di dunia ini. Rancangan Tuhan bukan rancangan kecelakaan dan bukan rancangan untuk menjadikan umatnya menjadi gay. Aku tidak menyalahkan Tuhan; Aku tidak menyalahkan siapa-siapa, tapi aku menyalahkan diriku yang tidak bisa mengendalikan diri sendiri.
Jalan manakah yang aku harus tempuh? Apakah kuharus menikmati hidupku atau bagaimana? Jika aku menikmati hidup apa adanya, maka aku harus menjadi gay tapi jika tidak maka hidupku akan penuh dengan kepura-puraan dan aku tidak bisa hidup dengan memasang “topeng” selama-lamanya. Kiranya Tuhan memberikan jawaban yang terbaik.
“Tok.. Tok.. Tok.. Geo? Bisa aku masuk?” ujar suara yang sangat aku kenal dari balik pintu kamarku. Ya, pemiliknya adalah Sandy. Aku kaget dan segera berdiri menghapus air mataku sambil menuju pintu.
“Hai Sandy, ada apa?” tanyaku
“Geo, kamu kenapa? kok mata kamu sayu gitu? lagi ada masalah ya.. Boleh nggak kamu cerita.. Siapa tahu aku bisa bantu!”
“Iya nih San. Aku lagi bingung!” Aku mengajaknya duduk di atas tepi ranjang dan mengajaknya berbicara.
“Ada apa Geo?”
“San, aku bingung apakah aku harus jadi gay atau bagaimana?” tanyaku sambil menatap matanya. Sandy lalu meletakkan tangannya di atas pundakku dan menepuk-nepuknya. “Geo, kamu nggak bisa bohongin diri kamu sendiri. Kamu nggak bisa menghindar dari perasaan hati kamu sendiri. Kalau memang perasaan itu ada dalam hati kamu, kamu nggak bisa pungkiri bahwa kamu sebenarnya adalah seorang gay” jelasnya.
Aku hanya diam dan menatap kosong ke arah lantai.

“Geo, dulu aku juga sama seperti kamu, aku sangat bimbang dan penuh dengan seribu macam pertanyaan yang sangat membuat aku terpukul kala harus menentukan jalan hidupku. Ya.. Apa yang aku alami dulu sama seperti apa yang kamu alami sekarang Geo. Tapi semua itu ada waktunya kok. ” katanya.

“Oh ya?” aku penasaran dan ingin mengetahui apa keputusan Sandy selanjutnya waktu itu.
“Terus.. Apa keputusan kamu?” tanyaku penasaran.
“Aku memutuskan untuk menjalani hidup apa adanya dan biarlah waktu yang mengubah semuanya. Aku tidak mau pura-pura jadi normal, tertarik sama cewek.. Padahal aku tidak tertarik sama sekali. Aku harus jadi diriku sendiri. Aku tidak mau jadi orang lain. Ya.. Yang terjadi ya terjadilah.. ” jelasnya.
“Jadi.. Itu keputusan kamu?”
“Iya Geo”
“Kamu tidak merasa menyesal mengambil jalan itu?”
“Tidak. Karena aku sudah berprinsip bahwa aku adalah aku dan aku bukan orang lain. Aku adalah diriku sendiri apa adanya”
“Prinsip yang bagus” kataku sambil mengangguk-angguk.

“Geo, kalau kamu takut menjadi gay dan hidup pura-pura, kamu tidak akan pernah menikmati tuh yang namanya hidup”
“Oh ya?”
“Ya.. ” jawabnya sambil senyum menghiasi raut wajahnya yang bersih dan manis.
“San.. Kamu memang sahabat yang baik. Kamu tahu nggak, sahabatku pergi meninggalkan aku saat aku bilang kalau aku jadi gay”
“Ha? dia bukan tipe sahabat sejati kalau begitu. Dia pergi meninggalkan kamu saat mengalami masa-masa pahit. Dia cuman ingin manisnya saja dari kamu”

“Katanya.. Dia nggak mau tertular virus gue!”
Sandy tertawa terbahak-bahak. “Virus? kalau begitu itu tergantung daya tahan tubuhnya dong terhadap virus, apakah dia juga kebal atau tidak” Sandy kembali duduk di dekatku dan memeluk aku erat-erat.
Aku merasakan damai dan kasih yang penuh dari pelukan Sandy. Pelukan yang membuat hatiku damai dan aman dari goncangan hidup. Dia kemudian membisikkan kata: “Geo, kamu harus jadi diri sendiri, bukan orang lain!” suaranya yang lembut mengiang mesra dan lembut di telingaku.

Aku tidak tahu apa yang terjadi dengan diriku, tiba-tiba saja gairahku kembali bangkit dan ingin melakukan hal itu dengan Sandy.
Aku mulai mencium pipi Sandy yang manis dan bersih putih itu. Sandy kemudian membalasnya dengan mencium keningku dan menciumi pipiku. Tiba-tiba saja ciuman tersebut berubah jadi ciuman bergairah. Kurasakan getar-getar birahi dalam diriku mulai mengalir dan membangkitkan nafsuku. Dan Sandy pun demikian. Ia mulai mengajakku berdiri sambil berciuman. Kami sangat menikmati ciuman mesra ini. Aku mulai menjilati bibirnya dan sesekali mengulum bibirnya yang seksi. Kedua tangan kami saling merangkul di pinggang dan saling merapatkan tubuh satu sama lain. Namun, ciuman itu terus berlanjut. Sandy lalu menelusuri rongga mulutku dengan lidahnya kesana kemari. Aku merasa sangat bergairah dan terus bergairah dengan ciuman ini. Ini adalah ciuman yang sangat menyenangkan dan mengasyikkan tak dapat diungkapkan dengan kata-kata. Ciuman yang lama.. Sambil menikmati bibir masing-masing, kedua tangaanku mulai membuka kancing baju Sandy. Begitupun dengan Dia, Sandy mulai melorotkan celana panjangku.

Dan tak lama kemudian kami hanya memakai celana dalam saja.
Kini kami dilanda nafsu yang sangat besar. Kami lalu melanjutkannya di atas tempat tidur. Sandy lalu mengangkatku dan membaringkan aku di atas tepi ranjang, lalu mukai menggigit-gigit kecil penisku yang masih dibungkus dengan kain merah. Aku hanya menggelinjang dan menikmati dan merasakan setiap gigitan dan sentuhan mulutnya. Sandy lalu menggigit kain CD-ku lalu menariknya ke bawah dengan mulutnya. Yah.. Ia mengeluarkan CD-ku dengan memakai mulutnya. Maka tampaklah penisku yang tegang berdiri berwarna kemerah-merahan. Kulihat kepala penis Sandy yang juga mnyembul dari dalam CD-nya membuatku kian bergairah. Aku lalu bangkit dari tidur dan mendorong tubuh Sndy ke atas ranjang dan melakukan hal yang sama dengan apa yang ia lakukan dengan aku tadi. Aku lalu menunduk dan mengigit-gigit penis berbungkus celana dalam warna hitam itu. Ya, rasanya keras juga untuk digigit. Penis Sandy memang sudah mengeras dan berwarna merah kecoklat-coklatan. Aku terus menikmatinya walau masih berbalut dan akhirnya aku menarik pula CD itu keluar dengan gigitanku hingga tampak pula milik Sandy yang besar dan berdiri kokoh. Aku tak sabar ingin menindih tubuhnya dan merasakan kehangatan tubuhnya.

Aku lalu bangkit dan menindih tubuhnya di atas ranjang penuh gairah. Aku kembali menciumi pipinya dan merasakan hangatnya hawa tubuh Sandy menyerap ke dalam tubuhku. Kurasakan benjolan penis Sandy yang sangat mengganjal di bawah perutku. Aku lalu bergeser ke bawah sedikit sehingga penisku bertemu dengan penisnya dan “akh.. Akh.. ” nikmat sekali. SAndy lalu menggoyangkan pantatnya naik turun walau aku menindihnya namun tetap saja bagian tubuh bawahnya tetap bisa ia goyangkan. Kemudian aku menggesek-gesekkan penisku di atas penisnya sambil tetap menikmati ciuman mulut dengannya.

Sandy dengan tak sabarnya, segera mendorong tubuhku hingga aku sekarang berada di posisi bawah. Ia lalu memasukkan penisnya di sela kedua pahaku dan menjepitnya lalu ia mengayunkannya naik turun. Ku merasakan benda tumpul itu hangat menggelitik dan menggoda-goda ujung sarafku.

Tak lama kemudian, kami berganti posisi. Kami lalu mengambil posisi 69 alias oral seks. Ia memutar tubuhnya di atas tubuhku dan walau aku harus menahan berat badannya yang kira-kira 55 kilogram itu, aku tidak merasa terbebani. Kini penis tanpa bulu-bulu halus itu berada tepat di atas wajahku. L Kedua bola menggantung itu kini berada dekat mulutku dan tanpa membuang waktu, segera saja kulahap mentah-mentah kedua buah itu dan nikmat sekali, lebih nikmat dari jus buah biasa. Sesekali aku mengerang dan menggelinjang kala Sandy sengaja mengelitik atau mencolek pinggangku dengan jari telunjuknya tapi aku tidak bisa bergerak karena aku ditindihnya. Namun Sandy juga kadang mengisapku dengan keras hingga terasa sampai di ujung-ujung saraf kelaminku.
Kami terus melakukan oral seks hingga merasa puas. Aku terus saja mengulum milik Sandy yang kira-kira 18 cm itu dan sesekali aku mengigit kecil benda keras itu.

“Akh.. Nikmatnya dunia ini.. ” kataku dalam hati. Tapi hampir kami tidak pernah saling berbicara mengeluarkan suara satu sama lain, hanya sesekali senyum saat pandangan mata bertemu dengan pandangan mata.

Selang beberapa puluh menit kemudian, kami lalu mengganti posisi. Sandy bangkit dan kini aku tidak merasa tertindih lagi oleh tubuh beratnya itu. Namun, selama oral tersebut, aku tidak merasakan beban berat tersebut, mungkin karena aku konsen dengan apa yang aku rasakan. Sandy lalu kembali mengisap-isap penuh gairah dan nafsu atas kedua puting susuku
“Akh.. Terusin.. Enak juga.. Isap yang keras, San!” bisikku sambil menggeliat. Namun itu hanya berlangsung beberapa menit. Kemudian aku bangkit dan kembali menindih tubuh Sandy. Aku bergeser ke bawah hingga aku mendapatkan penisnya yang sudah berwarna merah tua dan hangat. Aku lalu kemblai mengulumnya dan mengisapnya keras-keras. Aku melahapnya hingga ke ujung pangkalnya dan
“Akh.. Ahk.. Ahk.. ” aku tersedak dengan kepala penis Sandy yang menyentuh pangkal kerongkonganku. Tapi aku hanya menelan ludah dan kembali mengulum penis itu layaknya ice cream tapi ini lebih enak dari pada ice cream sendiri. Sesekali juga aku menggigit-gigitnya dengan halus, hingga Sandy mengerang dan menggeliat keenakan.
“Ya.. Terusin Geo, terusin.. Enak banget.. Akh.. Akh.. Aku mau keluar nih” ungkap Sandy.

Aku lalu menghentikan kegiatanku sementara dan menunggu hingga Sandy merasa aman lagi dari rasa mau muncrat. Ya.. Ini aku lakukan agar ml-nya berlangsung lama. Sambil menunggu penis kamu “loyo” kami saling berpandangan mata dan menikmati wajah masing-masing. Beberapa menit kemudian, penis kami mulai sewtegah loyo dan kini kembali kamu melakukan making love.

Aku lalu mengambil oil pelicin lalu mengoleskannya pada penisku dan menuangkannya di atas penis Sandy yang kembali menegang. Aku lalu menggeser tubuh Sandy hingga ke tepi ranjang sedangkan aku berdiri di tepinya sambil berdiri di atas lantai lalu membuka lebar kedua paha Sandy dan mengosok-gosokkan penisku ke bibir analnya. Sandy hanya menggelinjang dan menikmati sentuhan yang aku berikan. Karena aku tak sabaran lagi, aku lalu memasukkan penisku ke dalam analnya. Ya.. Susah juga pertamanya. Walau Sandy sudah tidak perjaka lagi, namun analnya masih susah ditembus. Aku lalu memasukkan jari tengah kedua tanganku lalu menarik bibir analnya ke arah yang berlawanan dan memasukkan penisku yang sudah mengeras dan licin. Akhirnya, kepala penisku sekarang sudah masuk. Tapi Sandy merasa kesakitan,
“Pelan-pelan Geo, aku agak sakit nih.. ”
“Oke.. ” Aku lalu melepaskan keuda jari tengahku dari dalamnya dan meletakkan kedua tungkai Sandy di atas kedua bahuku lalu aku mulai memeluk dan merapatkan kedua pahanya ke dadaku dan mengayunkan dengan sangat perlahan-lahan penisku keluar masuk anal Sandy.
“Akh.. Akh.. Enaknya”
“Ya.. Lebih kenceng lagi, Geo!” ujar Sandy
Aku lalu mulai mengayunkan penisku dengan agak cepat dari sebelumnya dan kian lama kian cepat dan cepat..
“Terus.. Akh.. Akh.. Terusin, Geo. Lebih kencang lagi dong!”
Aku lalu memasukkan penisku hingga ke pangkalnya ludes sudah masuk menembus anal Sandy. Aku mengguncangnya dengan kian cepat dan keras hingga tubuh Sandy ikut berguncang di atas ranjang. Aku mulai berkeringat dan tak lama kemudian..
“Akh.. Akh.. Akh.. Croot.. Croot.. Croot”
Aku mengeluarkan spermaku dan menembakkan peluru panas itu jauh ke dalam tubuh Sandy. Kurasakan waktu aku muncrat, Sandy menjepit erat penisku dengan otot bibir analnya. Penisku masuk hingga ke pangkalnya saat itu dan akh nikmat sekali rasanya. Aku mencapai puncak kenikmatan itu dan aku tidak melewatkan apa yang aku rasakan saat itu. Saat yang singkat itu aku mencoba unutk merasakannya semaksimal mungkin.

Akhirnya, aku mengeluarkan penisku dari dalam anal Sandy dan tampak spermaku keluar beberapa tetes dari dalamnya hingga membasahi lantai. Aku lalu duduk dan berbaring di sampingnya. Kemudian Andy bangkit dan mulai melakukan apa yang aku lakukan tadi. Dia lalu mengangkat pantatku naik setinggi mungkin mendekati penisnya karena dia berdiri di atas ranjang-tidak sama seperti aku tadi yang berdiri di atas lantai-dan aku tidur terlentang di atas ranjang. Akh, aku merasakan tubuhku terbalik. Lalu Sandy membuka lebar lubang analku dengan kedua jarinya lalu memasukkan penisnya dan..

“Akh.. ” Aku mengeluh kesakitan karena Sandy langsung saja mendorong penisnya hingga ke pangkalnya saat kepala penisnya, ulai masuk hingga aku kesakitan yang amat. Sandy kemudian menghela nafas dan wow.. Tidak pernah aku bayangkan, Sandy mengangkat badanku naik dengan kedua tangannya yang kuat hingga aku kini digendongnya sambil penisnya berada dalam analku. “Akh.. Fantastis San. Kamu hebat!” ungkapku.

Kami lalu berciuman. Aku sangat kaget dengan ini. Sandy melakukan apa yang tak pernah aku bayangkan. Ternyata dia sanggup mengangkat tubuhku.
Dengan posisi tetap seperti ini, Sandy membawaku dan dia duduk di atas sofa. Ternyata gaya ini sama seperti gaya yang ia lakukan sama Ivan dulu. Kini Sandy duduk di atas sofa dan aku duduk diatas ke dua pahanya menghadap ke arahnya dengan penisnya tetap berada dalam lubang analku. Aku lalu mulai mengayunkan pantatku turun naik secara perlahan sesuai dengan apa yang aku ingin rasakan. Karena aku masih merasa sakit, aku hanya melakukannya dengan naik-turun secara pelan-pelan dan ini diikuti dengan gerakan naik turun oleh Sandy walau dia dibawah. Semikn lama semakin hilng rasa sakit itu dan aku kini kian kencang naik-turunnya.

“Posisi yang sangat bagus dan fantastis, San!” ujarku.
Sandy hanya tersenyum dan menjilati dada dan puting susuku. Tapi penisku sendiri mulai bangkit lagi setelah selang beberapa menit loyo dan terkulai lemas, tapi kini penisku bangun lagi dan mulai menegang.
Selang sekitar dua puluh menit kemudian..
“Geo, aku mau keluar nih, coba kamu angkat pantatmu, aku ingin muncrat di luar”
Aku lalu mengangkat pantatku ke atas sehingga penis Sandy keluar di bawah lalu Sandy mengocok-ngocok penisnya sendiri dan..
“Akh.. Croot.. Croot.. Croott.. ”
Sandy memuncratkan spermanya di anatara sela badanku dan badannya sehingga kedua badan kami basah oleh hangatnya cairan sperma Sandy.
Setelah itu, kami berpelukan erat dan mesra penuh kasih sayang.
Akhirnya, making love keduaku selesai. Aku sekarang sudah dua kali melakukannya. Pertama dengan Richard dan kedua dengan Sandy. Semuanya menyenangkan dan memuaskan.
Bagaimana dengan perasaan hati nuraniku? Pertanyaan itu kembali menghantui hidupku, mungkin hanya making love yang akan menghilangkannya dari pikiranku.

“Ah.. Aku harus jadi diri sendiri. Aku ingin menikmati hidupku sebagai seorang gay, aku tidak bisa membohongi perasaan hatiku sendiri. Aku adalah aku dan aku adalah seorang gay” kataku dalam hati.

Sekian cerita seks seorang gay, semoga bisa menjadi pelajaran buat kita semua, menghormati kehidupan orang lain dengan memandang mereka sebagai manusia biasa seperti kita yang kebetulan memiliki gairah seks yang berbeda, tak hanya cerita seks lesbian, namun cerita seks gay pun menjadi daya tarik komunitas mereka.